Senin, 04 April 2011

Selasa, 22 Maret 2011

IIK PUNYA OPIEK

SYSTEM EKSKRESI PADA GURITA
Oleh:
1. Marina Safitri
2. ------------------------



SMAN 1 WARU PAMEKASAN


A. Mollusca


a. Difinisi
Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik, bilateral simetri, umumnya memiliki mantel yang dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang, tiram, siput sawah dan bekicot. Namun ada pula Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya. Untuk lebih memahaminya, coba Anda perhatikan gamnar di bawah ini. Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan diantara jenis hewan ini?

(a) kerang, (b) siput, (c) cumi-cumi
Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot. Lain halnya dengan kerang yang mempunyai kaki seperti mata kapak yang dipergunakan untuk berjalan di lumpur atau pasir. Sementara itu cumi-cumi dan sotong tidak punya cangkok, kakinya terletak di bagian kepala yang berfungsi untuk menangkap mangsa.
Mollusca memiliki alat pencernaan sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka di daerah rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas Mollusca kecuali kelas Cephalopoda.
Pernafasan dilakukan dengan menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat ekskresi berupa ginjal. Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion yaitu ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal yang ketiganya dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya terpisah atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal. Bagaimana? Sampai di sini jelas bukan? Sekarang kita lanjutkan dengan pembagian kelas Mollusca. Berdasarkan simetri tubuh, ciri kaki dan cangkoknya, Mollusca dibagi menjadi lima kelas, yaitu kelas Gastropoda, Cephalopoda, Bivalvia atau Pelecypoda, Amphineura dan kelas Scaphopoda. Berikut akan dibahas satu persatu.
b. Klasifikasi Mollusca pada Kelas Chepalopoda
Tubuh Cephalopoda dilindungi oleh cangkok, kecuali Nautillus. Mengapa cumi-cumi (Loligo), sotong (Sepia) dan gurita (Octopus) disebut jenis Cephalopoda? Cephalopoda (cephale : kepala, podos : kaki) adalah Mollusca yang berkaki di kepala. Cumi-cumi dan sotong memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek
Gurita memiliki 8 tentakel. Kaki (tentakel) ini berfungsi sebagai tangan untuk mencari, merasa dan menangkap makanan. Cumi-cumi, sotong dan gurita adalah contoh hewan kelas Cephalopoda. Sekarang perhatikan gambar 27. cumi-cumi!Tubuh cumi-cumi dibedakan atas kepala. Leher dan badan. Di depan kepala terdapat mata yang besar dan tidak berkelopak. Mata ini berfungsi sebagai alat untuk melihat. Masih di dekat kepala terdapat sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ia ingin bergerak ke belakang, sifon akan menyempurnakan air ke arah depan, sehingga tubuhnya bertolak ke belakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya.
Gambar 27. GURITA

Apabila Anda makan cumi, di bagian perut tepatnya sebelah sifon akan ditemukan cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen melanin. Fungsinya untuk melindungi diri. Jika dalam keadaan bahaya cumi-cumi menyemprotkan tinta hitam ke luar sehingga air menjadi keruh. Pada saat itu cumi-cumi dapat meloloskan diri dari lawan.Sistem pembuluh darah cumi-cumi adalah sistem pembuluh darah tertutup, jadi darah seluruhnya mengalir di dalam pembuluh darah. Hewan ini bernafas dengan insang yang terdapat di rongga mantel. Sedangkan ekskresi dilakukan dengan ginjal. Alat reproduksinya terpisah, masing-masing dengan gonad yang terletak dekat ujung rongga mantel.Sistem pencernaan makanan terdiri atas: mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus buntu, usus dan anus. Juga dilengkapi dengan kelenjar pencernaan yaitu kelenjar ludah, hati dan pankreas. Makanan cumi-cumi berupa ikan, udang dan Mollusca lainnya.
Untuk lebih jelasnya, coba Anda bersama teman mencari cumi-cumi yang masih segar. Bedakan kepala, leher, dan badannya! Cari pula rongga mantel dan sifon. Kemudian Anda coba untuk membedahnya. Pembedahan dimulai dengan mengiris bagian leher menuju posterior hingga rongga mantel dapat terbuka. Perhatikan pula otot-otot dan alat dalamnya. Apa yang Anda ketahui? Hasilnya diskusikan dengan temanmu!
Ternyata Mollusca kelas Gastropoda dan Cephalopoda tadi sudah tidak asing bagi kita. Mungkin di sekitar Anda banyak ditemukan. Dan tentu saja dengan mempelajari uraian tadi, Anda semakin memahami hewan jenis ini. Nah, sekarang mari kita lanjutkan dengan kelas lainnya yaitu kelas Bivalvia.
B. Cephalopoda
Cephalopoda adalah kelas dalam filum moluska. Di dalamnya mencakup semua gurita, cumi-cumi, dan sotong. Namanya —berarti "kaki di kepala"— diambil dari ciri khas hewan ini yang memiliki tentakel di sekitar kepalanya, yang berfungsi seperti tungkai (lengan dan kaki). Ilmu yang mempelajari Cephalopoda disebut sebagai teutologi (theutology, "ilmu mengenai cumi-cumi"), dan merupakan cabang dari malakologi.
Cephalopoda memiliki otak yang berkembang baik dan beberapa jenisnya memiliki kemampuan mengingat dengan baik, bahkan dapat belajar.
Orang memanfaatkan anggota-anggota Cephalopoda sebagai bahan pangan dan dalam industri.
C. GURITA
a. Difinisi Gurita
Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

b. Bentuk fisik
Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil.
Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray. Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.
Gurita mempunyai masa hidup yang relatif singkat dan beberapa spesies hanya hidup selama 6 bulan. Spesies yang lebih besar seperti Gurita raksasa Pasifik Utara yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram bisa hidup sampai 5 tahun di bawah kondisi lingkungan yang sesuai. Reproduksi merupakan salah satu sebab kematian, gurita jantan hanya bisa hidup beberapa bulan setelah kawin dan gurita betina mati mati tidak lama setelah bertelur. Kematian disebabkan kelalaian gurita untuk makan selama sekitar satu bulan sewaktu menjaga telur-telur yang belum menetas.
Selubung bagian perut tubuh gurita disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung. Gurita memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah gurita mengandung protein Hemosianin yang kaya dengan tembaga untuk mengangkut oksigen. Dibandingkan dengan Hemoglobin yang kaya dengan zat besi, Hemosianin kurang efisien dalam mengangkut oksigen. Hemosianin larut dalam plasma dan tidak diikat oleh sel darah merah sehingga darah gurita berwarna biru pucat. Gurita bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon. Gurita memiliki insang dengan pembagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.
c. Pertahanan diri
Gurita spesies Octopus ocellatus sedang bersembunyi di dalam kulit kerang. Gurita biasanya memiliki tiga mekanisme pertahanan diri: kantong tinta, kamuflase dan memutuskan lengan.
Gurita berwarna abu-abu pucat atau putih, tapi warna kulit bisa diubah sesuai warna dan pola lingkungan sekitar dengan maksud melakukan kamuflase (penyamaran). Pada kulit gurita terdapat kromatofora berupa lapisan kantung-kantung pewarna yang lentur dan bisa mengubah warna, opasitas dan refleksitas jaringan epidermis. Otot-otot di sekeliling kromatofora bisa membuat kantung-kantung pewarna menjadi kelihatan atau hilang. Kromatofora berisi pigmen berwarna kuning, oranye, merah, coklat, atau hitam. Sebagian besar spesies gurita memiliki 3 warna dari seluruh pilihan warna kromatofora yang ada, walaupun ada juga spesies yang memiliki 2 atau 4 warna. Sel-sel lain yang bisa berubah warna adalah sel iridophore dan sel leucophore (warna putih). Kemampuan berganti warna digunakan gurita untuk berkomunikasi atau memperingatkan gurita lain. Gurita cincin biru berubah warna menjadi kuning cerah dengan bulatan-bulatan berwarna biru jika merasa terancam sekaligus memperingatkan musuh bahwa dirinya sangat beracun.
Beberapa spesies gurita dapat memutuskan lengannya sendiri (ototomi) mirip cicak dan beberapa spesies kadal yang memutuskan ekor sewaktu melarikan diri. Lengan gurita yang sedang merangkak juga berfungsi sebagai pengalih perhatian bagi calon pemangsa dan berguna pada saat kawin.
Beberapa spesies gurita seperti gurita mimic memiliki sistem pertahanan ke-4 berupa kemampuan meniru bentuk hewan laut berbahaya seperti lionfish dan belut berkat tubuh yang lentur dipadukan dengan kemampuan berganti warna. Gurita mimic juga pernah didapati mengganti tekstur mantel agar kamuflase menjadi lebih sempurna. Mantel gurita mimic bisa terlihat runcing-runcing seperti rumput laut atau benjol-benjol seperti tekstur batu karang.
d. Reproduksi
Gurita jantan bereproduksi dengan meletakkan kantong spermatofora ke dalam rongga mantel gurita betina menggunakan lengan istimewa yang disebut hectocotylus. Lengan kanan ketiga biasanya menjadi hectocotylus. Pada beberapa spesies, gurita betina bisa menjaga sperma agar tetap hidup sampai telur menjadi matang. Setelah dibuahi, gurita betina bisa bertelur hingga sekitar 200.000 butir. Jumlah telur gurita bisa berbeda-beda bergantung pada masing-masing individu, familia, genus atau spesies. Gurita betina menggantung kumpulan telur berbentuk kapsul yang membentuk untaian di langit-langit sarang. Setelah telur menetas, larva gurita untuk sementara waktu melayang bersama kawanan plankton sambil memangsa pakan berupa copepod, larva kepiting dan larva bintang laut sampai cukup besar dan berat untuk berada di dasar laut. Beberapa spesies gurita dengan habitat di laut dalam tidak perlu melewati siklus melayang bersama kawanan plankton. Periode sebagai larva merupakan saat penuh bahaya karena larva gurita mudah dimangsa pemakan plankton sewaktu menjadi bagian dari kawanan plankton.
e. Ekskresi
Ekskresi berarti pengeluaran zat buangan atau zat sisa hasil metabolisme yang berlangsung dalam tubuh organisme. Zat sisa metabolisme dikeluarkan dari tubuh oleh alat ekskresi. Alat ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya berupa ginjal, paru-paru, kulit, dan hati, sedangkan alat pengeluaran pada hewan invertebrata berupa nefridium, sel api, atau buluh Malphigi.
Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh.
Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna empedu, dan asam urat.
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut.
Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea.
Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin.
Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah.
Tugas pokok alat ekskresi ialah membuang sisa metabolisme tersebut di atas walaupun alat pengeluarannya berbeda-beda.

Jumat, 04 Februari 2011

Inter Nasional

A. Pengertian Hokum Inter Nasional
Hukum internasional adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas berskala internasional. Pada awalnya, Hukum Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan antarnegara namun dalam perkembangan pola hubungan internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian meluas sehingga hukum internasional juga mengurusi struktur dan perilaku organisasi internasional dan pada batas tertentu, perusahaan multinasional dan individu.
Hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa, hukum antarbangsa atau hukum antarnegara. Hukum bangsa-bangsa dipergunakan untuk menunjukkan pada kebiasaan dan aturan hukum yang berlaku dalam hubungan antara raja-raja zaman dahulu. Hukum antarbangsa atau hukum antarnegara menunjukkan pada kompleks kaedah dan asas yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa atau negara.
Hukum Internasional merupakan keseluruhan kaedah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara: negara dengan Negara dan negara dengan subyek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain.
B. Latar Belakang Munculnya Internasional
Sistem Hukum Internasional merupakan suatu produk, kasarnya dari empat ratus tahun terakhir ini, yang berkembang dari adat istiadat dan praktek-praktek Negara-negara Eropa Modern dalam hubungan serta komunikasinya dengan Negara lain. Tapi kita pun perlu melihat jauh sebelum perkembangan zaman Eropa Modern yaitu pada periode kuno, beberapa Negara telah melaksanakan Hukum Internasional secara tidak langsung, dan adapun para ahli yang lahir sebelum zaman Eropa Modern tersebut yang dipandang memunculkan dasar-dasar dari pemikiran mengenai adat-istiadat yang ditaati oleh masyarakat serta adanya beberapa kasus sejarah seperti penyelesaian arbitrasi(perwasitan) pada masa Cina Kuno dan awal Dunia Islam yang memberikan seumbangan terhadap evolusi system modern Hukum Internasional.
Sejarah Hukum Internasional dalam perkembangannya mengalami beberapa periode evolusi yang terbilang berkembang dengan cepat dan menarik. Fase-fase tersebut dapat kita bagi dan bahas sebagai berikut :
1. Periode Kuno
 India
 Yahudi
 Yunani
 Romawi
 Eropa Barat
2. Periode Modern
Pada periode inilah, Hukum Internasional berkembang dengan sangat pesat. Dimulai pada masa pencerahan atau Renaissance, yang merupakan revolusi keagamaan yang telah memperokporandakanbelenggu kesatuan politik dan rohani Eropa. Teori-teori kemudian dikembangkan pada saat itu untuk menyongsong kondisi secara intelektual.
Perkembangan yang terjadi adalah :
 Traktat Westphalia
 Bermunculan para Pakar Hukum Internasional
C. Contoh Hukum Internasional
kewarganegaraan ganda dianggap sah sah. Tetapi ketika orang tersebut sudah mencapai usia tertentu misal 20 tahun, ia diharuskan memilih diantara kewarganegaraan itu.

Senin, 29 November 2010

MU

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DAN SILABUS BERBASIS KOMPETENSI DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN TINGGI

Oleh:
Wachyu Sundayana

I. PENDAHULUAN

Pengembangan kurikulum di lingkungan Pendidikan Tinggi (PT)harus didasarkan
pada pendektan yang sistematis dan komprehensif. Ini menuntut adanya keterkaitan
antara visi dan misi lembaga dengan tujuan dan sasaran program studi yang
dikembangkan berdasarkan pertimbangan perkembangan yang ada dan kebutuhan
masyarakat masa kini dan masa yang akan datang. Dalam prakteknya, ini menuntut
prinsip dan pendekatan yang seksama.
Pada hakikatnya, pengembangan kurikulum mencakup prinsip dan prosedur yang
berkenaan dengan perencanaan, penyajian(delivery), manajemen, dan evaluasi dari
segenap proses belajar-mengajar (Richards, 1991).
Sementara itu, secara umum kurikulum merujuk kepada program pendidikan yang
mencakup (a) tujuan suatu program pendidikan, (b) isi program, (c) prosedur
pembelajaran dan pengalaman belajar yang diperlukan guna mencapai tujuan tersebut,
dan (d) sarana atau alat untuk menilai apakah tujuan yang dicanangkan tersebut
tercapai.

Dalam praktek pengembangan kurikulum dan silabus di lingkungan PT,
Keputusan Mendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusuanan Kurikulum
Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa yang antara lain
menegaskan tentang tujuan dan arah pendidikan tinggi yang tercermin dalam
pengelompokan mata kuliah berdasarkan lima pilar pendidikan harus menjadi
salah satu acuan. Kelima pilar tersebut adalah: Pengembangan Kepribadian, Keilmuan
dan Keterampilan, Keahlian Berkarya, Perilaku Berkarya, dan Berkehidupan
Bermasyarakat. Dalam Kepmendiknas No. 045/U/2002 yang mengatur Kurikulum Inti
(KI) PT ditegaskan bahwa kelima pilar tersebut sebagai elemen-elemen kompetensi
yang harus dikembangkan dalam peyusunan kurikulum suatu program studi. Dengan
demikian, pemgembangan kurikulum suatu program studi harus berbasis kompetensi
sebagaimana dimaksud dalam Kepmendiknas tersebut. Penerjemahan kedua
Kepmendiknas tersebut oleh PT dalam mengembangkan kurikulum dan silabusnya
tentu harus memperhatikan pula kebutuhan mahasiswa, masyarakat pengguna lulusan,
dan masukan dari asosiasi profesi yang terkait dengan program studi dengan tetap
memperhitungan perubahan yang terjadi dalam lingkungan strategis PT baik yang
bersifat lokal, regional, dan global.

Berdasarkan acuan tersebut, pengembangan kurikulum dan silabus di PTselain harus
sistematis juga harus mengacu kepada kompetensi.sebagaimana ditegaskan dalam
Kepmendiknas tersebut. Pembahasan ini akan memfokuskan pada prinsip dan
komponen dalam pengembangan kurikulum dan silabus di PT (Universitas) yang
berbasis kompetensi dengan pendekatan yang sistematis, yakni semua komponen dalam
kurikulum dan silabus, yakni tujuan (yang berbasis kompetensi), isi program/bahan ajar,
proses pembelajaran, dan evaluasi dikembangkan saling terkait, sehingga terwujud
konsistensi diantara komponen kurikulum dan silabus (curriculum componet
consistency)

II. DESAIN DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PT

A. Desain Pengembangan Kurikulum PT

Desain kuirikulum merujuk kepada penyusunan atau organisasi elemen-elemen kurikulum yang menyangkut: (1) Tujuan umum dan khusus; (2) isi program; (3) kegiatan pembelajaran; dan (4) evaluasi (Zais dalam Print, 1993:94)
Pemilihan desain kurikulum sangat bergantung pada berbagai hal, seperti landasan kurikulum yang menyangkut aspek-aspek, antara lain psikologi, filsafat, sosial-kultural, ekonomi, dan politik; dan keharusan melihat faktor-faktor kontekstual tujuan pendidikan dilihat dari sisi-sisi tersebut.
Dalam perkembangannya dapat dikelompokkan empat desain kurikulum yang mencakup:

desain yang berpusat pada bidang kajian (subject-centered designs)
desain yang berpusat pada pembelajar (learner-centered designs)
desain yang berpusat pada masalah (problem-centered designs)
desain inti (core designs)

1. Desain yang berpusat pada bidang kajian (subject-centered designs)

Desain ini didasarkan pada pengelompokkan dan organisasi bidang kajian secara terpilah-pilah atau terkelompok dalam bidang kajian atau mata kuliah. Desain ini menekankan pada pemerolehan bidang keilmuan dan isi kirikulum terstruktur secara bertahap seperti dalam matematika, biologi, atau bahasa. Desain ini mencakup: (1) desain disiplin akademis (academic disciplines design) dan (2) desain pengelompokan bidang keilmuan (broad field design).
. Desain disiplin akademis menekankan pada keterpilahan disiplin ilmu dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan nilai. Organisasi kurikulum dalam desain ini mengikuti cara kerja akademisi dan disiplin keilmuan. Oleh karenannya, isi kuriklulum akan memusatkan pada bagaimana ilmuwan berkerja , seperti ahli biologi, sejarawan, dan ahli bahasa. Cara berpikir, cara kerja, dan penelitian yang ada dalam disiplin ilmu sangat kental mewarnai desain kurikulum ini. Kurikulum yang dikembangkan harus dapat membekali pembelajar dengan struktur keilmuan, yakni hubungan antara gagasan, konsep dan prinsip termasuk integrasi keterampilan dan nilai yang melakat pada disiplin keilmuan.

Desain kurikulum berdasarkan pengelompokkan bidang keilmuan dikembangkan untuk menutupi kelemahan pada desain pertama, desain disiplin akademis. Dalam desain broad field, disiplin ilmu seperti bilogi, kimia, fisika dikelompokkan ke dalam pembidangannya yang lebih luas sebagai Ilmu Pengetahuan Alam (Science); Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi ke dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies); Membaca, Menulis, Berbicara, Mengeja ke dalam Bahasa (Language Arts). Desain terpadu ini dipandang lebih sesuai bagi jenjang pendidikan dasar, sementara desain yang terpilah-pilah seperti pada desain disiplin akademis lebih sesuai bagi jenjang pendidikan menengah dan tinggi.


2. Desain yang berpusat pada Pembelajar (Lerner-centered Designs)

Desain ini menekankan pada perkembangan individu pembelajar serta pendekatan dalam organisasi kurikulum yang bergerak dari minat dan kebutuhan pembelajar. Karena itu, terdapat dua perbedaan mendasar antara desain ini dengan desain sebelumnya, desain yang berpusat pada bidang studi. Pertama, dalam desain yang berpusat pada pembelajar organisasi kurikulum beranjak dari minat dan kebutuhan pembelajar, bukan dari bidang studi. Kedua, karena berfokus pada minat dan kebutuhan siswa, desain ini lazimnya tidak statis dan ditentukan sejak awal (preplanned) . Ia bergerak dinamis sejalan dengan interaksi pengajar-pembelajar dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran (learning tasks) yang juga bergerak sejalan dengan minat dan kebutuhan pembelajar.

Desain yang berpusat pada pembelajar mencakup dua jenis: (1) desain berdasarkan penglaman/kegiatan (activity/experience design); dan (2) desain humanistik (humanistic design).

a. Desain berdasarkan kegiatan/pengalaman.
Desain ini didasarkan pada pandangan bahwa “ Orang belajar melalui apa yang mereka alami… Belajar dalam pengertian sebenarnya adalah suatu transaksi aktif” (lihat Taba, 1962:401). Karena itu, ciri yang pertama dari desain ini adalah adanya transaksi antara pengajar dan pembelajar dalam memetakan minat dan kebutuhan pembelajar. Peran pengajar dalam kaitan ini adalah mengembangkan kemampuan yang sejalan dengan minat dan kebutuhan pembelajar dan mengembangkan kurikulum disekitar ini.
Ciri lain dari desain ini adalah kurikulum kurang mencakup mata-mata pelajaran yang formal. Ciri terakhir adalah pengetahuan dan keterampilan diajarkan bila pembelajar membutuhkannya.
Desain ini banyak diterapklan pada pendidikan jenjang Taman Kanak-kanak (TK)


b. Desain Humanistik
Desain ini hampir sama dengan desain berdasarkan pengalaman yakni menekankan pada kebutuhan individu pembelajar dalam lingkungan yang lebih kondusif dan mendukung. Desain humanistik bertujuan membekali pembelajar dengan pengalaman-pengalaman yang secara intrinsik bermanfaat bagi pengembangan diri pembelajar, antara lain, memperkuat konsep-diri melalui penciptaan pengalaman belajar yang mendukung.


3. Desain yang berpusat pada Masalah (Problem-centered Designs)

Desain kurikulum yang berpusat pada masalah mengarahkan pembelajar pada kemampuan dalam memecahkan masalah kehidupan baik yang dihadapi oleh dirinya dan masyarakatnya. Karena itu, berbagai isu atau masalah yang dihadapi individu pembelajar dan masyarakat seperti masalah lingkunganm, perdamaian, berbagai situasi yang dihadapi pembelajar termasuk ke dalam tema-tema dalam kurikulum dengan desain ini. Terdapat dua jenis desain yang tercakup ke dalam desain yang berpusat pada masalah, yakni: (1) Desain Tematik/Topik, dan (2) Desain berdasarkan Masalah.

a. Desain Tematik
Pikiran yang melandasi desain ini adalah kurikulum harus memberikan pengalaman belajar yang mencerminkan kehidupan nyata yang bermakna dan berguna bagi pembelajar. Dan untuk itu berbagai tema yang dihadapi dalam kebidupan individu pembelajar dan masyarakat baik dalam konteks lokal, regional dan global harus tercakup dalam kurikulum. Karenanya, tema-tema dapat diambil dari lingkungan terdekat dengan pembelajar dan berbagai bidang studi yang memiliki keterkaitan dengan kenyataan yang dihadapi pembelajar. Bila tema diambil dari bidang studi lazimnya bersifat terpadu (integrated). Misalnya, tema lingkungan dapat berkaitan dengan biologi, sejarah, geografi, dan Bahasa Inggris. Desain tematik ini karena sifatnya yang terpadu sangat sesuai diterapkan dalam pengembangan kurikulum di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

b. Desain berdasarkan Masalah
Desain ini beranjak dari pandangan bahwa pembelajar harus dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan nyata agar dapat memahami dunianya. Sebagaimana desain tematik, desain ini menonjolkan kebermakanaan sebagai basis bagi desain kurikulum agar apa yang tercakup dalam kurikulum dipandang relevan. Perbedaan yang ada dengan desain tematik terletak pada pengidentifikasian, penanganan, dan pemacahan berbagai masalah. Melalui proses ini, pembelajar akan beroleh pengalaman belajar bermakna dan dapat lebih berperan dalam masyarakat. Karena itu, desain ini menekankan pada pemecahan masalah yang relevan bagi kehidupan nyata yang dihadapi pembelajar dan masyarakatnya.

Desain ini lebih sesuai untuk diterapkan pada berbagai kurikulum berbasis
keterampilan bagi kehidupan (life-skills curricula) yang banyak dikembangkan
dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ini dapat pula diterapkan pada
jenjang PT.

4. Desain Kurikulum Inti (Core learning designs)

Perkembangan desain ini sejalan dengan adanya kebutuhan bagi terbentuknya kurikum nasional sebagai salah satu upaya dalam menciptakan standarisasi dalam bidang pendidikan. Dalam konteks pengembangan kurikulum PT di Indonesia, desain Kurikulum Inti (KI) kerap identik dengan Kurikulum Nasional (Kurnas).
KI dalam konteks kurikulum PT mencakup sejumlah bidang kajian/mata kuliah (mencakup pengetahuan/keahlian, keterampilan, dan nilai) yang dipandang pokok dan penting sehingga harus diberikan kepada semua pembelajar/mahasiswa agar mereka dapat berperan secara efektif dalam masyarakat. Untuk memetakan apa yang pokok dan penting itu, beberapa pertanyaan berikut harus dipertimbangkan dalam menentukan apa yang inti dalam desain kurikulum ini.

- Apa sajakah (mata kuliah apa) yang dimasukan kedalam KI ?
- Seberapa luas cakupan KI ( misalnya dalam bentuk persentase) dari keseluruhan isi
kurikulum?
- Apa sajakah yang harus dikecualikan dari KI?
- Apakah KI diharuskan bagi seluruh pembelajar/mahasiswa?
Dalam perkembangan kurikulum PT, khususnya kurikulum berbasis kompetensi, KI harus mengacu kepada pemetaan kompetensi utama yang diperlukan oleh lulusan suatu program studi. Karena itu dari sisi desain, kurikulum PT yang berbasis kompetensi (dengan acuan Kepmendiknas 045/U/2002 tentan Kurikulum PT) harus menganut desain gabungan sejalan dengan tujuan masing-masing kelompok kajian/mata kuliah sebagaimana diatur dalam Pedoman Penyusunan Kurikulum PT(Kepmendiknas No. 232/U/2000).


B. Prinsip dan pendekatan Pengembangan Kurikulum PT

Dalam pengembangan kurikulum di PT (khususnya di lingkungan Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan/LPTK) lazimnya dianut dua pendekatan. Pertama,
pendekatan concurrent (bersamaan), yakni mata kuliah yang mengembangkan
Kepribadian (MPK), Keilmuan dan Keterampilan (MKK) dengan mata kuliah yang
mengembangkan Keahlian Berkarya (MKB), dan mata kuliah yang mengembangkan
Perilaku Berkarya (MPB) diorganisasikan secara bersamaan. Dengan pendektan ini
mahasiswa diperkenalkan dengan kelompok mata kuliah tersebut secara serempak
agar penghayatan terhadap tugas profesional mereka tertanam sejak dini.
Kedua, pendekatan consecutive (berurutan), mata kuliah yang mengembangkan
kepribadian (MPK) calon tenaga kependidikan, mata kuliah keilmuan dan
keterampilan, mata kuliah keahlian berkarya (MKB), dan mata kuliah prilaku berkarya
(MPB) diberikan secara berurutan. Dalam pendekatan ini mahasiswa dari suatu
program studi yang satu dimungkinkan untuk mengambil program studi lainnya,
misalnya dari non-kependidikan ke kependidikan dalam rumpun keilmuan yang
sama pada PT setelah mereka menguasai mata kuliah keilmuan dan keterampilan
terlebih dahulu dan selanjut mengambil MKB dan MPB yang dalam kurikulum
Prodi Kependidikan menjadi dalah satu syarat untuk memperoleh akta mengajar.
Bila kita mengacu kepada Kurnas 1993 dan 1996, prinsip fleksibilitas menjadi ciri
pengembangan kedua kurikulum tersebut. Prinsip ini merujuk kepada rancangan
kurikulum suatu program studi yang memungkinkan mahasiswa memiliki kemampuan
yang beragam, tidak terbatas pada satu keahlian dalam satu bidang studi. Dengan kuri-
kulum yang fleksibel memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh kemampuan
tambahan disamping kemampuan pada bidang studi utamanya. Prinsip ini masih
relevan untuk dipertahankan dalam konteks kurikulum berbasis kompetensi.


III. PENGEMBANGAN KURIKULUM PERGURUAN TINGGI BERBASIS
KOMPETENSI SECARA SISTEMATIS

Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum Prodi berbasis kompetensi adalah kurikulum yang komponenya, mulai dari tujuan hingga evaluasi direkat oleh elemen (unifying element) kompetensi.
Dalam Kepmendiknas No. 045/U/2002, kompetensi didefinisikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (lihat Pasal 1). Kompetensi ini dalam Pasal 2 Kemendiknas tersebut terdiri atas: (1) kompetensi utama, (2) kompetensi pendukung, (3) kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi utama. Dalam struktur kurikulum prodi, kompetensi utama melekat pada Kurikulum Inti (KI). Sedangkan, kompetensi pendukung dan kompetensi lain dapat dituangkan dalam Kurikulum Institusional/Lembaga (KIns).

Praktek pengembangan kurikulum berbasis kompetensi suatu program studi di lingkungan PT harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Sesuai dengan Pasal 6 ayat (2) dalam Kepmendiknas No. 045/U/2002, KI harus ditetapkan oleh kalangan perguruan tinggi bersama masyarakat profesi dan pengguna lulusan. Karena itu, penyusunanya harus dilakukan oleh suatu Tim Pengembang Kurikulum yang keanggotaannya sejalan dengan ayat ini.

2. Berdasarkan ayat tersebut KI yang sekarang berlaku (yakni Kurnas ) dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum prodi berbasis kompetensi.

3. Kurikulum Inti suatu prodi , sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Kepmendiknas di atas, harus bersifat:
a. dasar untuk mencapai kompetensi lululusan;
b. acuan baku minimal mutu penyelenggaraan prodi;
c. berlaku secara nasional dan internasional;
d. lentur dan akomodatif terhadap perubahan yang sangat cepat di masa
datang;
e. kesepakatan bersama antar PT, masyarakat profesi, dan pengguna lulusan.

4. Implikasi dari butir 3 ini, antara lain, Prodi perlu menetapkan standar kompetensi lulusan yang menjadi acuan (competence standard) dalam merumuskan kompetensi-kompetensi dasar (basic competencies). Misalnya, untuk setiap mata kuliah yang tercakup ke dalam MKK (Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan) dan MKB (Mata Kuliah Keahlian Berkarya). pemetaan standar tersebut beserta kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh lulusan suatu prodi hendaknya dilakukan, antara lain dengan dua pendekatan berikut: (a) Pendektan sintetik dan (b) Pendekatan analitik. Dalam pendekatan pertama, pengembangan kurikulum dan silabus dilakukan dengan membandingkan berbagai acuan dari program studi sejenis dan kemudian mensintesakannya. Sedangkan pada pendekatan kedua, dilakukan melalui analisis kebutuhan pembelajar secara seksama. Pendekatan kedua ini akan mendapat penguatan dalam pembahasan ini.

5. Untuk pengembangan kompetensi pendukung/penunjang dan kompetensi lain yang bersifat khusus yang sejalan dengan kompetensi utama, Prodi perlu
menetapkan mata kuliah yang sesuai dengan kebutuhan lembaga dan
mahasiswa dengan acuan kebutuhan masyarakat pengguna lulusan. Mata
kuliah-mata kuliah yang membekali keterampilan bagi kehidupan mahasiswa
(life skills) yang akan memperkuat daya saing lulusan harus menjadi fokus
dalam pengembangan ini.

6. Silabus mata kuliah untuk setiap kelompok harus didasarkan pada kompetensi,
yang menunjukkan keterampilan( termasuk keterampilan berpikir), penguasaan konsep keilmuan, kemampuan berkarya, sikap dan perilaku berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai.

7. Dalam rancangan silabus mata kuliah harus tergambar dengan jelas penjenjang (gradasi) berdasarkan kompetensi yang diacunya sehingga terpetakan pengelompokkan mata kuliah pada level dasar, menengah, dan atas. Dengan demikian dimungkinkan adanya pengkodeaan mata kuliah berdasarkan tingkat kesulitannya.

A. Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan secara sistematis

Salah satu model pengembangan kurikulum yang banyak dianut adalah model
Tyler (Model Rasional) yang dimodifikasi oleh Brown sebagai A Systemetic Approach
to Program Development (1995) . Model ini mencakup 6 komponen kurikulum yang
antara satu komponen dengan komponen lainnya saling berkaitan. Model tersebut
dapat digambarkan sebagagai berikut:


























Keenam komponen tersebut secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Needs Analysis

a. Sasaran Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan (Needs analysis) secara umum dapat didefiniskan sebagai suatu pengumpulan dan analisis informasi secara sistematis yang dibutuhkan guna
menentukan dan memvalidasi tujuan-tujuan kurikulum yang dapat memenuhi
persyaratan belajar yang diharapkan/dibutuhkan pembelajar dalam lingkup kehidupannya/tugasnya. (lihat Brown, 1995;36).
Dalam analisis kebutuhan terlibat berbagai pihak yang berkaitan dengan pendidikan (stake holders), yang antara lain meliputi:

1) Pembelajar(mahasiswa);
2) Pengajar/dosen, unsur pimpinan
3) Penggunan lulusan dan lulusan
4) Asosiasi profesi yang relevan
5) Ahli analisis kebutuhan, dll.

b. Informasi yang dijaring melalui analisis kebutuhan

Richards(1991) menyebutkan bahwa informasi terpenting yang harus diungkap lewat analisis kebutuhan mencakup: Pertama, analisis situasi yang antara lain mencakup pemetaan pada lingkup apa saja lulusan akan menggunakan kompetensinya/kemampuannya. Kedua, tujuan penyelenggaraan program studi yang dirumuskan dalam seperangkat kompetensi dasar (dalam kurikulum berbasis kompetnsi). Ketiga, jenis-jenis kompetensi/kemampuan apa sajakah yang dibutuhkan agar lulusan dapat bersaing dalam lingkup tugasnya. Keempat, tingkat atau standar kompetensi yang dibutuhkan agar lulusan dapat berperan dengan baik dalam lingkup tugasnya/pekerjaannya kelak.

c. Alat pengumpul informasi dalam analisis kebutuhan

Dalam mengumpulkan informasi dalam analisis ini lazim digunakan cara berikut:
kajian dokumen (a.l. kurikulum dan silabus yang ada, bahan ajar yang tersedia), angket, wawancara, observasi, tes, dan analisis pekerjaan/tugas yang akan dijalani kelak oleh lulusan dalam lingkup pekerjaannya. Analisis pekerjaan (task/job analysis) dan kajian berbagai dokumen kurikulum dan silabus yang ada sebaiknya dapat dijadikan fokus dalam pengembangan kurikulum dan silabus PT yang dilakukan secara bersama-sama antara staf pengajar, asosiasi profesi, dan pengguna lulusan.

d. Hasil Analisis Kebutuhan

Dari analisis kebutuhan ini akan diperoleh serangkaian daftar kebutuhan yang kemudian dirumuskan dan diterjemahkan ke dalam daftar tujuan. Hasil yang diperoleh berupa kebutuhan pembelajar (masyarakat) tentu saja harus dipadukan dengan visi (gambaran ke depan) dan misi lembaga. Dengan cara ini diharapkan apa yang menjadi visi dan misi lembaga dapat terkait (relevan) dengan kebutuhan masyarakat.

2. Tujuan Umum (Goals) dan Tujuan Khusus (Objectives)

Tujuan umum dalam kurikulum merupakan penerjemahan dari hasil identifikasi/analisis kebutuhan pembelajar. Ia merupakan pernyataan tentang apa yang perlu dicapai sehingga kebutuhan pembelajar dapat terpenuhi. Sementara itu tujuan khusus merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan umum yang lazimnya dirumuskan dalam satu mata kuliah tertentu. Dalam kaitan ini Brown(1995;71) mendefinisikan goals sebagai “Pernyataan umum tentang tujuan dan maksud suatu program studi yang perlu dicapai berdasarkan kebutuhan pembelajar atau situasi yang akan dihadapi oleh lulusan dalam lingkup pekerjaannya (tujuan program). Sekaitan dengan tujuam umum ini perlu diperhatikan empat prinsip berikut:

a. merupakan pernyataan umum tujuan suatu program;

b. pernyataan tentang kemampuan (kompetensi) pembelajar/mahasiswa setelah selesai menjalani program;

c. menjadi dasar untuk mengembangkan tujuan(tujuan khusus) masing-masing mata kuliah yang lazimnya tertuang dalam silabus dan satuan acara perkuliahan;

d. bersifat dinamis, berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan.

Dalam kurikulum berbasis kompetensi, rumusan tujuan dalam kurikulum merujuk kepada kompetensi (competence-based objective). Untuk merumuskan tujuan berdasarkan kompetensi, Richards (2001;129) menegaskan bahwa perumusan kompetensi harus pada kemampuan pembelajar dalam menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugasnya kelak. Karena itu, elemen-elemen kompetensi dapat merujuk kepada: pengetahuan tertentu, keterampilan berpikir, sikap, dan keterampilan bersifat fisik (psikomotor)

Berkenaan dengan objectives Brown (ibid. h.72) mendefinisikannya sebagai pernyataan yang lebih spesifik tentang pengetahuan, perilaku, atau keterampilan yang perlu dikuasai oleh pembelajar/mahasiswa pada akhir perkuliahan. Tingkat spesifikasi ini menurut Mager (dalam Richards, 1991) dapat dilihat dari tiga komponen berikut yang lazim disebut sebagai performance-based objectives:

Performance, kemampuan yang akan dimiliki oleh pembelajar
Conditions, batasan kemampuan yang diharapkan
Criterion, tingkat kualitas yang dikehendaki.

Ini tentunya bukan satu-satunya cara merumuskan tujuan yang lebih spesifik, ada
berbagai cara lain yang tidak disebutkan di sini. Yang terpenting adalah manfaat
tujuan, antara lain:

Membantu pengajar/dosen menerjemahkan kebutuhan pembelajar/mahasiswa
menjadi butir-butir pembelajaran
Membantu pengajar memilih dan mengorganisasikan bahan ajar agar sesuai dengan pembelajar
Membantu mengarahkan pengajar untuk mengelola proses belajar mengajarnya sesuai kemampuan yang dimiliki pembelajar
Membantu pengajar menyusun alat evaluasi.

3.Testing

Tes merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam rangka melakukan
evaluasi terhadap proses belajar mengajar untuk menentukan apakah seorang
pembelajar/mahasiswa telah memiliki kemampuan (kompetensi) yang diharapkan. Tes
juga dapat menginformasikan kepada pengajar apakah proses pembelajaran
berlangsung efektif atau tidak. Terdapat sekurang-kurangnya tiga jenis pengambilan
keputusan yang dapat dilakukan melalui pemberian tes (lihat Brown, 1995; 108-113),
yakni:


a. Placement. Menetapkan penempatan pembelajar pada tingkat atau kelompok yang
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sebelum dimulainya suatu program.
b. Achievement. Menetapkan kemampuan/kompetensi pembelajar berdasarkan program yang telah diikuti oleh pembelajar/mahasiswa.
c. Diagnostic. Menetapkan kemampuan atau ketidakmampuan yang dimiliki oleh
pembelajar/mahasiswa selama program berlangsung sehingga tindakan perbaikan
dapat dilakukan sebelum berakhirnya suatu program (Ini kerap dilakukan melalui
tes formatif).


3. Materials Development.

Pengembangan bahan ajar (Materials development) pada dasarnya menyangkut
seleksi, adaptasi, dan pembuatan bahan ajar (Nunan, 1991). Ini dapat dipusatkan pada
evaluasi dan adaptasi bahan ajar yang ada serta pembuatan (pengembangan) bahan
ajar oleh pengajar sejalan dengan tujuan dan kebutuhan program studi. Bahan ajar
dalam bentuk kompilasi dari berbagi sumber yang sejalan dengan rumusan
kompetensi dalam silabus merupakan salah satu pilihan bagi program studi,
disamping buku teks utama.

Dalam mengembangkan bahan ajar ada empat hal penting yang harus dipertimbang -
kan, yakni:

a. Approaches. Pendekatan adalah cara mendefinisikan apa yang perlu dipelajari oleh
pembelajar dan bagaimana mempelajarinya.

b. Syllabus. Silabus pada dasarnya merupakan seleksi dan organisasi bahan ajar.

c. Techniques. Teknik adalah cara bagaimana bahan ajar disajikan kepada
pembelajar/mahasiswa.

d. Excercises. Latihan adalah cara bagaimana pembelajar melakukan latihan-latihan
menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya.
























5. Teaching.

Pengajaran dapat didefinisikan sebagai usaha untuk membantu mahasiswa/
pembelajar belajar sesuai dengan tujuan (mengacu kepada kompetensi yang
telah dipetakan) yang telah disepakati. Berbagai ahli pengajaran memberikan
berbagai resep ihwal pengajaran yang efektif. Tiga kriteria pengajaran berikut
merupakan satu dari sekian contoh yang disarankan oleh para pakar.

a. Konsisten. Hasil pengajaran yang berupa kemampuan (kompetensi ) bagi para pembelajarnya harus tetap ajeg antara satu pembelajar dengan pembelajar lainnya, dan antara satu program dengan program lainnya.

b. Relevan. Relevansi pengajaran akan terlihat dari sisi apakah suatu program
pengajaran betul-betul menyampaikan proses yang mengantarkan kepada hasil
sebagaimana yang telah dicanangkan dan termaktub dalam tujuan pembelajaran.

c. Efisiensi. Efisiensi pengajaran akan dilihat dari sisi hasil yang diperoleh berdasrkan
penggunaan waktu dan sarana pembelajaran yang ada.

Dalam pengalaman kita menerapkan kurikulum berbasis kompetensi di PT (khususnya LPTK), dua model berikut: Model Pembelajaran Eksplisit dan Mastery Learning dapat dijadikan salah satu pilihan diasamping model-model lainnya.




1. Model Pembelajaran Eksplisit ( untuk keterampilan)













2. Model mastery learning untuk a.l. bidang keilmuan :




















6. Evaluation.

Evaluasi secara umum didefinisikan sebagai kegiatan mengumpulkan dan
menganalisis informasi untuk meningkatkan kualitas kurikulum dan menentukan
keefektifan kurikulum. Dalam model sistematik, evaluasi implementasi kurikulum
idealnya dilakukan pada seluruh komponen kurikulum yang dikembangkan. Tetapi
dalam kurikulum berbasis kompetensi, evaluasi harus difokuskan pada learning
outcomes. Ini dilakukan antara lain dengan menilai sejauhmana kompetensi-kompetesi
yang dirumuskan tercapai atau tidak tercapai setelah satu program diselesaikan. Dalam
pelaksanaannya , ini dapat dilakukan secara berjenjang. Misalnya, pada setiap dua
semesteran atau empat semster pertama dilakukan uji kemampuan pembelajar/
mahasiswa berdasarkan standar kompetensi yang dipetakan untuk cakupan
waktu tersebut. Dengan demikian upaya perbaikan bagi para mahasiswa yang belum
mencapai standar yang diharapkan dapat diperbaiki lebih awal (lihat konsep mastery
learning).

Evaluasi yang berorientasi pada hasil ini dianggap lebih memberikan kepastian
dan akuntabilitas hasil belajar mahasiswa.



IV. PENGEMBANGAN SILABUS PROGRAM STUDI DI PT

A. Apa itu Silabus?

Silabus adalah seleksi dan organisasi (gradasi) bahan ajar termasuk penyiajiannya dalam kegiatan perkuliahan serta penilaian hasil belajar mahasiswa (lihat Brown, 1995)

B. Komponen Silabus

Dari batasan di atas komponen silabus mencakup:
Tujuan perkuliahan ( mengacu pada rumusan kompetensi)
Bahan ajar
Kegiatan perkuliahan
Penilaian hasil belajar mahasiswa
Prasyarat bagi mata kuliah berjenjang

C. Mengapa Silabus itu perlu dikembangkan?

Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman
Penyusunan Kurikulum PT dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa
Kemendiknas No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti PT
Pengejawantahan Tujuan PT yang tertuang dalam Visi, Misi, dan sasaran yang ingin dicapai oleh PT ybs.
Dinamika perubahan yang terjadi dalam lingkungan strategis PT ybs., seperti kebutuhan lapangan

D. Siapa yang Mengembangkan Silabus?

Dosen
Kelompok dosen bekerjasama dengan asosiasi profesi dan pengguna lulusan

E. Bagaimana Silabus itu dikembangkan?

Idealnya, didasarkan pada kebutuhan mahasiswa dan pengguna lulusan. Ini dikembangkan dalam bentuk silabus yang dinegosiasikan.
Dikembangkan berdasarkan pendekatan analisis dosen yang dilakukan oleh kelompok dosen, asosiasi profesi, dan pengguna lulusan.

F. Jenis Silabus yang manakah yang dikembangkan?

Jenis Silabus yang dikembangkan didasarkan pada:
Kekhasan mata kuliah
Pendekatan yang dianut dalam kurikulum PT ybs.
Jenis yang dikembangkan dapat berupa antara lain:

Topik dan Kompetensi
Topik, kompetensi, struktur, fungsi, keterampilan, situasi (untuk Prodi Pend. Bahasa/Sastra)

G. Tahapan Penyusnan Silabus

Perencanaan
Implementasi
Perbaikan
Pemantapan
Penilaian Silabus

H. Contoh Format Silabus

Bentuk gabungan matriks dan deskripsi
Kerangka:

UNIVERISTAS /INSTITUT _________________
FAKULTAS _______________
PROGRAM STUDI _________

Mata kuliah : _________
Sks : _________
Kode : ________
Dosen/Asisten: _______

Standar Kompetensi: ______________________________________________________

Deskripsi Mata Kuliah: (berisi cakupan substansi mata kuliah)

Kompetensi Dasar: (mengacu kepada kompetensi bidang kajian yang dapat mencakup pengetahuan, keterampilan/keterampilan berpikir, sikap)

Prasyarat: (digunakan bila mata kuliah ybs. Berjenjang/bergradasi dilihat dari tingkat kesulitannya)




Pertemu-an
Topik
Kompetensi
Kegiatan perkuliahan
Evaluasi
Sumber
1





2





3





dst.






Rujukan (Referensi):

1. Rujukan Utama:

2. Rujukan Penunjang (yg disarankan):


V. CATATAN AKHIR

Pengembangan kurikulum pada prakteknya merupakan upaya yang harus dilakukan oleh segenap unsur yang terlibat dalam pengelolaan program studi. Ini harus dilaksana- kan sekurang-kurangnya dalam lima tahun sekali. Kegiatannya dapat mencakup sebagaian atau seluruh komponen kurikulum sebagaimana yang digambarkan di atas.
Pengembangan kurikulum PT berbasis kompetensi sebaiknya digunakan dengan menerapkan model sistematis agar terwujud suatu keterkaitan antara komponen kurikulum.

Dalam paparan tersebut model pengembangan kurikulum yang digunakan adalah model sistematis atau yang lebih dikenal dengan Model Tyler yang dimodifikasi oleh Brown. Model ini didesain berdasarkan objective-based (atau competence-based) yang dikembangkan dengan mencoba memadukan antara model transmisi dalam pendidikan (berorientasi kepada bidang keilmuan, kompetensi, keterampilan yang dialihkan dari yang berpengalaman /berpengetahuan ke yang kurang berpengalaman/berpengetahuan) dengan model transaksi dalam pendidikan yang mempertimbangkan kebutuhan dan minat serta latar belakang pembelajar. Karena itu, dalam pengembangan silabus mata kuliah hendaknya dipertimbangkan pula minat dan kebutuhan pembelajar.

Kedudukan kuriklulum(pengembangan kurikulum) dalam manajemen program studi dan lembaga pendidikan sangat penting agar pengelolaan program studi dapat mencapai
kinerja yang diharapkan. Dalam konteks evaluasi eksternal program studi oleh BAN misalnya, kurikulum merupakan salah satu titik sentral pengelolaan program disamping unsur SDM dan yang lainnya yang menjadi indikator kinerja yang dievaluasi.













‘

DAFTAR BACAAN

1. Brown, James Dean. 1995. The Elements of Language Curriculum; A Systematic
Approach to Program Development. Boston, Mass.: Heinle&Heinle Publishers.

2. Djiwandono, Soenardi M. dkk. 1997. Pengembangan Kurikulum Nasional Program
Studi Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Jakarta: Proyek PGSM Dikti.

3. Keputasan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 232/U/2000 tentang
Pedoman Penyusunan Kurikulum PT dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa.

4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 045/U/2002 tentang
Kurikulum Inti PT.

5. Miller dan Seller. 1986. Curriculum; Perspectives and practice. New York: Longman.

6. Nunan, D. 1991. Language Teaching Methodology: A Textbook for Teachers. New
York: Prentice Hall.

7. Richards, J.C.1991. The Language Teaching Matrix. Cambridge: Cambridge
University Press.

8. Saukah, Ali. 1999. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Bahasa di LPTK; Kertas
Kerja pada Seminar Pengembangan Kurikulum Due-Like Project.

9. Sundayana, Wachyu. 1999. Pengembangan Kurikulum Program Studi Bahasa di
FKIP; Kertas Kerja pada Semlok Pengembangan Kurikulum FKIP Univ. Galuh

































LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1 :


KETERKAITAN ANTARA ANALISIS KEBUTUHAN (ANALISIS DOKUMEN DAN PEKERJAAN) DENGAN PENGEMBANGAN KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM





















































Lampiran 2: CONTOH KETERKAITAN ANTARA ANALISIS DOKUMEN DAN PEKERJAAN GURU DENGAN PENGEMBANGAN KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM







1. Guru memiliki sikap, kepribadian, dan perbuatan yang senantiasa menjalankan
kewajiban dan haknya secara bertanggung jawab ( yang dilandasi oleh nilai-nilai
keagamaan yang diyakininya).
2. Guru memiliki sikap, karakteristik, dan kepribadian seorang pendidik yang
profesional yang menjadi panutan bagi perkembangan peserta didik.
3. Guru memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pengelola pendidikan
yang professional.
4. Guru menguasai dengan baik (pada tingkatan lanjut) bidang studi/kajian yang
akan diajarkannya.
5. Guru memiliki penguasaan yang baik terahadap aspek-aspek perkembangan
pembelajar dan latar belakang sosialnya.
6. Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan kurikulum
dan bahan ajar yang sejalan dengan kebutuhan dan karakteristik pembelajar.
7. Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memilih, mengembangkan,
dan menerapkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
pembelajar.
8. Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam merencanakan, mengelola,
dan mengembangkan progranm pembelajaran.
9. Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memilih, mengembangkan,
dan menerapkan model-model evaluasi pembelajaran.
10. Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memilih, merancang, dan
menerapkan teknologi media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
pembelajar.





















Sumber: Dimodifikasi dari Konsep Kurnas Program Studi Sarjana Pendidikan
Bahasa Inggris oleh M. Soenardi Djiwandono dkk. 2001





Contoh Silabus Berdasarkan Kompetensi.

Contoh 1:

Mata Kuliah : Listening I
Semester : I

Topik : Job and Profession
Kompetensi: 1. Mengidentifikasi peran partisipan dalam suatu percakapan

Indikator : 1.1 Diberikan suatu percakapan terekam terdiri dari 6 pertukaran peran
bertopik “Job and Profession”, mahasiswa dapat mengidentifikasi
peran partisipan dengan tepat.

Bahan Ajar : Teks lisan berbentuk percakapan bertopik “Job and Profession”

Kegiatan Pembelajaran:

1. Pramenyimak : Mengajukan pertanyaan lisan tentang jenis pekerjaan yang diketahui mahasiswa

2. Kegiatan Menyimak: Mahasiswa menyimak percakapan dan mengidentifikasi
partisipan dalam percakapan

3. Kegiatan pascamenyimak: Mahasiswa mensimulasikan percakapan yang berkaitan dengan topik yang diberikan.

Evaluasi : Dalam proses terfokus pada kegiatan menyimak

Mata Kuliah : Speaking I

Semester : I

Topik : Personal Identity

Kompetensi : 1. Mengungkapkan jati diri

Indikator : 1.1 Diberikan suatu simulasi wawancara pekerjaan, mahasiswa dapat
mengungkapkan jati dirinya dengan bahasa yang dapat dimengerti

Kegiatan Pembelajaran:

1. Penyajian : Masiswa diberikan model percakapan yang berkaitan dengan topik

2. Latihan : Mahasiswa melatih pelafalan ekspresi yang terdapat dalam model
percakapan, melatih penggunaan fungsi bahasa yang diberikan

3. Produksi : Mahaisiswa mensimulasi percakapan yang berkaiatan dengan topik


Evaluasi : Dalam proses berfokus pada tahap latihan dan produksi










Contoh 2: Silabus Berbasis Topik dan Kompetensi Program Bhs. Inggris untuk
Kebutuhan Pekerjaan


Topik : Perumahan
Kompetensi:
1. Mengidentifikasi perlengkapan rumah
2. Menjawab pertanyaan sederhana tentang kebutuhan rumah
3. Memperoleh informasi tentang perumahan, termasuk perlengkapan rumah, sistim sewa atau kontrak
4. Melaporkan permasalahn tentang rumah dan hal-hal darurat
5. Mengajukan perbaikan rumah

Topik : Berbelanja
Kompetensi :
1. Membaca sejumlah rambu dan tanda petunjuk di tempat perbelanjaan
2. Menanyakan harga sejumlah barang
3. Menyatakan jenis-jenis kebutuhan dasar
4. Memba singkatan tentang berbagai jenis ukuran dan berat
5. Menanylkan informasi tentang bagain-bagian di pasar swalayan

Topik : Mencari pekerjaan
Kompetensi:
1. Menanyankan informasi tentang kesempatan kerja
2. Membaca dan menafsirkan iklan lowongan pekerjaan
3. Menulis surat lamaran pekerjaan
4. Mengetahui tahapan-tahapan wawancara pekerjaan

opiek KURIKULUM

1. Perkembangan Keilmuan (Scientific Development)
Sebagai bagian dari disiplin ilmu sosial, ilmu politik dituntut untuk semakin adaptif terhadap perkembangan keilmuan yang semakin menekankan pendekatan multidisipliner untuk menjelaskan subjek dan objek kajiannya
 
2. Perubahan Pasar Kerja (Market Demand)
Kompetisi dunia kerja menuntut lulusan ilmu politik yang bukan hanya memiliki kompetensi keilmuan (pemahaman teori) tapi juga mampu menggunakan dan menerjemahkan kompetensinya itu untuk memecahkan masalah yang sifatnya praktis, multidimensional dan kompleks
3. Ketersediaan Sumber Daya (Resources Availability)
Daya dukung SDM dan fasilitas akademik masih belum dimanfaatkan secara optimal (under capacity) untuk menjawab tantangan pasar kerja yang berubah dan perkembangan keilmuan terbaru menurut prinsip efisiensi, integrasi, keterkaitan antar bagian dan dialog keilmuan
4. Input dan Ekspektasi Mahasiswa
Persaingan yang semakin tinggi antar perguruan tinggi menuntut langkah strategis secara kelembagaan (salah satunya dengan cara) menawarkan substansi kurikulum dan metode pembelajaran yang baru, inovatif, dan relevan dengan ekspektasi tinggi calon mahasiswa
C. FILOSOFI DAN PRINSIP DASAR
Ilmu sebagai wahana pembebasan
Ilmu sebagai sarana pencarian kebenaran
Kampus sebagai tempat ekspresi diri dan membangun dialog
Mahasiswa sebagai pusat pembelajaran
Dosen sebagai fasilitator
Kelas bukan satu-satunya tempat belajar
Belajar sebagai pilihan dan tanggung jawab
Proses belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan
D. KOMPETENSI LULUSAN JIP
I. Kompetensi Utama
Mempunyai kemampuan mengidentifikasi dan menerangkan gejala dan masalah sosial politik menurut kaidah-kaidah baku keilmuan
Mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang perkembangan keilmuan terbaru dan pendekatan multidisipliner dalam kajian politik dan pemerintahan kontemporer baik pada tingkatan lokal, nasional dan global.
Mempunyai dan mampu menjabarkan ilmu politik dan kajian pemerintahan menurut logika keseimbangan hubungan antara agensi (agency) dan struktur (structure), aspek material-simbolik, dan dimensi domestik-internasional
Menguasai metodologi keilmuan serta keahlian praktis untuk menerapkannya dalam penelitian sosial dan presentasi ilmiah
Mampu memberi kontribusi positif dalam mendorong dan turut terlibat dalam menggerakkan perubahan sosial
 
II. Kompetensi Pendukung
Mampu memformulasikan ide/gagasan yang orisinil, kritis, komprehensif dan berorientasi pada pemecahan masalah
Mampu menerapkan pemahaman teoritik untuk menjelaskan studi kasus riil dalam lingkup kajian ilmu politik
Mempunyai sikap terbuka, toleran, dan demokratis
Mempunyai sikap jujur serta mengedepankan nilai etika dan moral
Mempunyai sikap apresiatif dan memiliki kreativitas estetik
Memiliki kepekaan sosial yang tinggi
Memiliki semangat dan jiwa kewirausahaan
Memiliki semangat kejuangan Panglima Besar Soedirman
III. Kompetensi Lainnya
Mampu bekerja dan mengorganisir diri dan atau kelompok
Mampu membangun jaringan secara personal dan kelembagaan
Mempunyai sikap positif, percaya diri, ingin tahu dan kritis, baik dalam kehidupan akademis maupun sosial
Mampu berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan
Memiliki keahlian dalam memanfaatkan teknologi informasi
Memiliki kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan
 
PETA  KURIKULUM MENURUT ELEMEN KOMPETENSI
 

Kamis, 25 November 2010

ISTILAH DALAM COMPUTER

Hardware
Perangkat keras, merupakan salah satu element dari sistem komputer, suatu alat yang bisa dilihat dan diraba oleh manusia secara langsung, yang mendukung proses komputerisasi. Dalam bahasa Indonesia ...
Software
Disebut juga dengan perangkat lunak, merupakan kumpulan beberapa perintah yang dieksekusi oleh mesin komputer dalam menjalankan pekerjaannya. perangkat lunak ini merupakan catatan bagi mesin komputer ...
Computer
Alat bantu bagi manusia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Perangkat elektronik yang dapat dipakai untuk mengolah data dengan perantaraan sekumpulan program dan mampu memberikan informasi dari hasil ...
Computerized
Sistem yang dijalankan dengan bantuan perangkat komputer. Di dalam bahasa indonesia tidak jarang disebut dengan istilah komputasi.
hardware key
Sarana fisik yang digunakan untuk mengamankan sistem komputer dari penggunaan yang tidak sah.
computer art
Sebuah istilah luar yang yang menunjuk ke bidang seni atau seni yang diciptakan oleh komputer.
Computer Card
Sebuah papan sirkuit plug in yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan komputer.
Computer game
merupakan salah satu bentuk atau fasilitas yang interaktif dan popular dari sebuah komputer.
Computer Store
Toko komputer. Biasanya hanya menyediakan produk komputer makro dan mini saja.
Computer crime
Pemakaian komputer secara ilegal oleh pemakai tidak sah, baik untuk kesenangan atau untuk maksud mencari keuntungan.
Computer power
Kemampuan komputer untuk melakukan kerja
Software house
Rumah pemroduksi perangkat lunak.
hardware check
Check otomatis yang dilaksanakan oleh hardware untuk mendeteksi kesalahan atau problem internal.
Computerization
Komputerisasi. Pemakaian komputer sebagai alat bantu penyelesaian tugas sebagai pengganti penyelesaian pekerjaan secara manual.
Computer system
Computer system, sistem komputer. Sistem yang dibangun dan dijalankan dengan menggunakan komputer sebagai alat bantunya. Elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan untuk ...

Jumat, 01 Oktober 2010

PELATIAN WEBSITE

SANANG SAKALI BISA BALAJAR WEBSITE

Selasa, 13 Juli 2010

surat

Contoh Surat Permohonan
Tangerang, 5-2-2007
No :
Hal : Permohonan bantuan korban banjir
Lamp :
Kepada Yth
Bapak/Ibu Warga
Perumaham Poris indah Blolk C
Di tempat

Dengan hormat
Mengingat banyaknya saudara kita yang terkena musibah akibat banjir, maka Izinkanlah kami selaku RISMAYA mengharapkan bantuan dan partisipasi seluruh waraga Perum poris Indah Blok C khususnya yang bertujuan untuk meringankan beban yang dialami saudara-saudara kita.
Adapun jenis sumbangan yang kami himpun tergantung keikhlasan Bapak/Ibu sekalian. Kami menerima apapun bentuknya baik materi maupun non materi, Hasil sumbangan yang kami himpun akan kami salurkan langsung kepada yang bersangkutan di…………………………..
Demikianlah surat yang kami buat ini, agar menjadi pertimbangan bapak/ibu/saudara/I sekalian untuk membantu saudara kita, Sedikit bantuan dari kita tentu sangat berarti buat mereka. Terimakasih atas bantuan bapak/ibu/saudara/I
Semoga amal bapak/ibu/saudara/I diterima di sisi Tuhan YME


Ketua Rw 06 Ketua DKM Ketua RISMAYA
Masjid Ainal Yaqin

Surat kerjasama

PERJANJIAN KERJASAMA
PENYERTAAN INVESTASI di FOREX BORNEO
Yang bertanda tangan di bawah ini :
1. Nama
Jabatan
: Ahmad Rofiqi Amin
: Ketua Kompas (Komunitas Mahasiswa Pamekasan) Malang
Bertindak atas nama Team Trading Forex Borneo Selanjutnya dalam perjanjian ini disebut
sebagai pihak ke-1 (satu)
2. Nama
Alamat
:……………………………….
:…………………………….....
…………………………….....
Selanjutnya dalam perjanjian ini disebut pihak ke-2 (dua)
Kedua belah pihak sepakat untuk menjalin kerjasama penyertaan investasi di forex borneo
dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Pasal 1
Penyertaan investasi di forex borneo dengan ketentuan : 1 lot (paket) = Rp.3.000.000,- (tiga juta
rupiah)*
Pasal 2

Pihak ke-1 (satu) sepakat untuk bertanggung jawab terhadap dana yang diserahkan Pihak ke-2 (dua) sebesar Rp.3.000.000,- (tiga juta rupiah) sebagai penyertaan investasi di forex borneo. Dana tersebut telah di transfer ke No. Rek. 0131822524, BNI; Cabang Banjarbaru a.n. Bpk. Akhmad Yusuf, S.Si Pada tanggal……………… dengan bukti transfer terlampir
Pasal 3

Pihak ke-2 (dua) sepakat bahwa masa penyertaan modal sebesar Rp.3.000.000,- di forex borneo berlaku selama 10 bulan (sepuluh bulan) dan bulan ke-11 dana investasi (dua) akan dikembalikan ke pihak ke-2
Pasal 4
Pihak ke-1 (satu) akan memberikan dividen/bagi hasil setiap bulan (setelah berjalan 1 bulan
masa investasi) kepada pihak ke-2 (dua) sebesar 10% dari nilai investasi pihak ke-2 (dua)
Pasal 5
Pihak ke-1 (satu) bertanggung jawab dalam pembagian dividen yang menjadi hak pihak ke-2
(dua) yang selanjutnya akan ditransfer ke rekening pihak ke- 2 (dua) No.Rek.………………
…. Nama bank, Cabang, Atas nama setiap 1

Senin, 12 Juli 2010

Semakin maraknya wacana pupblik yang muncul dan menggugah setiap indifidu yang kemudian mampu menghegemuni setiap pengkonsumsinya. maka perlu adanya INTERNALISASI WACANA GLOBOL DALAM BINGKAI DEALEKTIKA.
By: Opiek Ahmad

Rabu, 05 Mei 2010

Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi

Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut motivasi adalah kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dan insentif.


2. Pentingnya Motivasi Dalam Belajar

Motivasi belajar tidak hanya penting bagi siswa tetapi juga guru. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa sebagai berikut:
• Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir.
• Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, bila dibandingkan dengan teman sebaya.
• Mengarahkan kegiatan belajar
• Membesarkan semangat belajar
• Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar.
Pentingnya motivasi belajar bagi guru sebagai berikut:
• Membangkitkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar.
• Motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam; ada yang acuh tak acuh, ada yang tidak memusatkan perhatian, ada yang bermain, disamping yang bersemangat untuk belajar. Dengan bermacamragam motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi mengajar belajar.
• Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam-macam peran, seperti penasehat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, dan guru pendidik.
• Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis.

Selasa, 04 Mei 2010

Persamaan Garis

PERSAMAAN GARIS LURUS DIBERI TITIK DAN KECERUNAN

Sekiranya diberi kecerunan dan satu titik tertentu (x, y), persamaan garis lurus boleh diperoleh dengan memasukkan nilai x dan y ke dalam persamaan untuk mendapatkan nilai b, iaitu pintasan - y . Misalnya, untuk mencari persamaan satu garis yang mempunyai kecerunan 0.75 dan melalui titik (8 , 10), kita hanya perlu mencari nilai b dalam persamaan apabila x = 8 dan y = 10. Oleh kerana,

10 = 0.75(8) + b
b = 10 - 6 = 4
maka persamaan garis ialah y = 0.75x + 4

Senin, 03 Mei 2010